Pagi itu di lokasi tambang Sorowako, Sulawesi Selatan milik PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Kartini (41) lengkap dengan pakaian APD atau baju wearpack dengan menggunakan helm tambangnya mau meluangkan waktu ditengah kesibukannya untuk berbagi cerita pengalamannya dengan para jurnalis terkait perannya sebagai supir atau operator dump truk angkutan tambang model HD Truck Caterpillar (CAT) 777 yang bobotnya hampir 100 ton.
Meski berpakaian lengkap APD, namun tidak merubah karakter jiwa wanitanya untuk selalu bersolek menjaga penampilannya. Hal ini mempertegas gambaran bawah industri tambang yang selama ini dikenal sebagai sektor yang didominasi laki-laki, tetapi juga memberi ruang untuk perempuan berkarya.
Kartini asli putri daerah Sorowako yang juga lulusan SMA ini bercerita, awalnya hanya mencari pekerjaan tetap, tanpa pernah membayangkan akan mengemudikan truk besar. “Waktu itu sempat ragu, saya pikir ini kerjaan laki-laki. Tapi saya nekat ikut tes setelah menjalani pelatihan di PPI selama dua tahun. Eh, malah lolos,”ujarnya.
Meski dirinya seorang perempuan, diakuinya dalam dunia kerja di tambang tetap perlakukan sama dengan pekerja laki-laki pada umumnya. Selain itu, lanjut Kartini, soal jenjang karir juga terbuka lebar untuk maju dan berkembang. Menjadi operator alat berat bukanlah pekerjaan ringan. Kartini harus terbiasa bekerja dalam sistem shift (pagi, siang, dan malam), termasuk shift malam yang dimulai pukul 22.00 hingga 06.30 pagi.
Dalam satu hari kerja, dia mampu mengangkut hingga 8 lot (ritase) material, tergantung kondisi medan dan jarak tempuh. Ketangguhan Kartini bukan hanya saat mengemudi. Dia hafal betul kondisi mesin truknya, memahami pentingnya pengecekan harian pada ban, oli, dan sistem hidrolik sebelum beroperasi. “Pernah mati mesin di tengah jalan. Tapi semua ada prosedurnya, tinggal koordinasi ke supervisor,” katanya.
Berpengalaman 14 tahun menjadi operator alat berat, Kartini menjadi simbol bahwa dunia tambang saat ini sudah berubah dari dahulu hanya familiar bagi kaum adam rupanya sudah membuka ruang bagi kaum hawa untuk bisa berkarya. PT Vale Indonesia, salah satu perusahaan pertambangan terbesar di Indonesia mengubah iklim industri tambang yang dulunya terkesan maskulin, kini terbuka luas bagi perempuan.
Saat ini, terdapat sekitar 50 perempuan yang memegang kendali operator alat berat di PT Vale Indonesia Tbk yang merupakan bagian dari MIND ID. Jumlah ini tergolong besar untuk ukuran industri pertambangan dan menunjukkan upaya perusahaan dalam mendorong keberagaman.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah pekerja perempuan di sektor pertambangan Indonesia hanya mencapai 115 ribu orang, sementara pekerja laki-laki mencapai 1,28 juta orang. Proporsi ini bahkan terus menyusut, selama tiga tahun terakhir proporsi pekerja perempuan di industri tambang Indonesia hanya berada di angka 10%-11% dari total tenaga kerja.
Direktur Utama Vale Indonesia, Bernardus Irmanto mengatakan, perseroan berkomitmen menciptakan kesetaraan gender di tempat kerja dengan memastikan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk diterima dan dipromosikan. Hal ini tercermin dalam upaya memaksimalkan tambang kebaikan melalui langkah merekrut lebih banyak karyawan perempuan dan memberikan dukungan penuh untuk kesuksesan mereka di perusahaan.
Kemudian dalam proses mengoptimalkan tambang kebaikan, PT Vale Indonesia memiliki berbagai program yang dirancang untuk memberdayakan perempuan, baik tingkat operasional maupun manajerial. “Program ini mencakup pelatihan, pengembangan karier, dan mentoring yang khusus dirancang untuk mendorong perempuan agar dapat berkontribusi secara maksimal di sektor yang sering kali didominasi oleh laki-laki, seperti pertambangan,”ujarnya.
Selain itu, PT Vale Indonesia mendorong keberagaman dan menciptakan lingkungan kerja inklusif di mana setiap individu dapat menjadi diri sendiri. Perempuan tidak perlu meniru peran laki-laki di industri tambang. Perusahaan ini percaya bahwa keberagaman, termasuk gender, menghadirkan perspektif baru dan solusi kreatif. Dengan budaya kerja yang menghargai semua orang tanpa diskriminasi, PT Vale memberi ruang tambang kebaikan bagi siapa saja, terlepas dari gender, untuk menginspirasi dan berkembang.
Ditambahkannya pula, di sektor tambang yang penuh risiko, kehadiran perempuan dalam berbagai level organisasi juga terbukti memperkuat budaya keselamatan kerja. Vale sendiri melihat bahwa kehadiran perempuan, seperti Kartini, tak hanya memperkaya dinamika kerja, tetapi juga membawa pendekatan yang lebih hati-hati, teliti, dan kolaboratif.
Mantan CEO Vale Indonesia, Febriany Eddy pernah bilang, peran perempuan cukup signifikan di perusahaan. Salah satunya sebagai sumber perspektif dalam melihat sejumlah hal. Pengambilan keputusan di Vale, misalnya, menjadi lebih baik dengan keterlibatan wanita. “Dengan keberagaman itu, kita bisa melihat banyak perspektif yang kaya. Di dalam perbedaan itulah ada sebuah kekuatan,”katanya.
Selain itu, membuka ruang perempuan kerja di sektor Tambang juga bagian dari menjalan praktek bisnis berkelanjutan dengan prinsip ESG. Oleh karena itu, PT Vale Indonesia melihat keberlanjutan bukan hanya soal teknologi ramah lingkungan, melainkan juga investasi sosial jangka panjang. Ketika diberdayakan, masyarakat lokal akan menjadi bagian dari solusi dan inovasi.
Menurut Febri, keterlibatan perempuan dalam industri ekstraktif bukan hanya soal representasi, melainkan juga langkah strategis menuju transformasi sosial-ekologis yang lebih adil dan inklusif. “Praktik pertambangan yang berkelanjutan bukan soal teknologi ramah lingkungan semata. Lebih dari itu, pertambangan berkelanjutan juga tentang siapa saja yang terlibat di dalamnya,”ujarnya.
Semnetara Executive Director Women in Mining and Energy Indonesia, Noormaya Muchlis, menyoroti pentingnya mendorong lebih banyak perempuan untuk berkarir di sektor tambang. “Kami sangat mendukung para perempuan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dan mencapai tujuan serta cita-cita yang diharapkan sehingga bangsa Indonesia dapat menjadi negara yang lebih maju. Ada banyak contoh pemimpin perempuan di Indonesia yang tetap berkarir namun juga dapat berhasil dalam keluarganya di waktu bersamaan,” ujarnya.
Menurutnya, partisipasi perempuan dalam industri tambang memiliki dampak positif yang signifikan. Selain memperkaya perspektif dalam pengambilan keputusan, kehadiran perempuan juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan inovatif. Dengan meningkatnya peran perempuan, diharapkan akan muncul lebih banyak figur inspiratif yang dapat mendorong generasi berikutnya untuk terjun ke sektor ini.
Berdayakan UMKM
Selain memberdayakan peran perempuan, PT Vale Indonesia juga berkomitmen dalam memberdayakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Hal ini bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjalankan bisnis berkelanjutan. Lewat Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) Anatowa sebagai mitra, peseroan memacu pertumbuhan ekonomi lokal di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan memberdayakan pelaku UMKM.
Di galeri Kareso Anatowa, Bumdesma Anatowa hadir sebagai pusat pengembangan dan pemasaran produk UMKM. Direktur Utama Bumdesma Anatowa, Zulfikar Arna, mengatakan, Bumdesma Anatowa terbentuk atas kolaborasi antar-desa, dengan perwakilan dari empat desa dan satu kelurahan di Kecamatan Nuha. Anggota bumdesma ini terdiri dari Desa Nikkel, Nuha, Matano, Sorowako, dan Kelurahan Magani.
Dengan dukungan dari PT Vale Indonesia sebagai mitra binaan utama dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Bumdesma ini berhasil menjadi wadah kurasi, pembinaan, sekaligus distribusi produk UMKM setempat. Selain menjual produk UMKM, galeri Kareso Anatowa juga menjajakan produk pertanian organik dari petani lokal binaan PT Vale Indonesia seperti beras organik.“Alhamdulillah, kami sudah berjalan empat tahun, dan support dari PT Vale serta pemkab sangat baik. Galeri Kareso menjadi unit usaha paling sehat dan paling aktif,”ungkapnya,
Saat ini, disampaikan Zulfikar, galeri Kareso Anatowa telah menampung lebih dari 150 produk dari UMKM yang tersebar di empat kecamatan, yakni Nuha, Towuti, Malili, dan Wasuponda. Jenis produk yang dijual didominasi oleh makanan olahan, herbal, serta kerajinan.“Ada sekitar 60 pelaku usaha yang aktif, karena satu UMKM biasanya bisa hasilkan 2 – 3 produk. Kami tidak batasi saat awal masuk, nanti dibina langsung oleh konsultan PT Vale agar bisa naik kelas,” jelasnya.
Dari beragam produk UMKM yang dipasarkan, Bumdesma Anatowa mampu meraih omzet penjualan hingga Rp80 juta sampai Rp100 juta per bulan. Sebagian besar transaksi galeri Kareso, tambah Zulfikar Arna berasal dari karyawan dan mitra PT Vale, termasuk kebutuhan untuk souvenir tamu perusahaan.“Sekitar 80% penjualan datang dari PT Vale, terutama untuk kebutuhan tamu. Kami bahkan masukkan produk ke dalam mini bag souvenir resmi mereka,”ujarnya.
Salah satu produk unggulan yang sudah merambah pasar nasional adalah keripik pisang dari brand Lahadeng. Produk khas Luwu Timur yang menawarkan ragam varian rasa ini sudah memiliki outlet di sejumlah kota seperti Makassar dan Malili. Selain itu, produk serupa seperti Keripik Pangkilang khas Danau Towuti juga mendapat perhatian karena kandungan gizi tinggi seperti magnesium dan omega. Adapun produk kriya yang banyak dikenal adalah anyaman Teduhu dari Desa Nuha.
Director External Relations PT Vale Indonesia, Endra Kusuma menambahkan, Sorowako bukan sekadar wilayah operasi tambang melainkan laboratorium hidup filosofi keberlanjutan Vale. Sejak 1970-an, perusahaan menanamkan investasi sosial melalui pelatihan, pendampingan usaha, serta pembukaan akses pasar bagi masyarakat sekitar tambang.
Dari inisiatif tersebut lahir lebih dari 139 UMKM binaan aktif yang kini menopang ekonomi rumah tangga, dengan omzet kolektif mencapai ratusan juta rupiah per tahun, melalui produk pangan lokal, kopi Matano, kerajinan tangan, dan berbagai produk kreatif khas Sorowako.
Melalui Galeri UMKM Kareso Anatowa, hasil kreasi warg mulai dari camilan tradisional hingga kopi organik menjadi wajah baru Sorowako yang berdaya. Setiap produk membawa cerita tentang kemandirian, kualitas, dan kebanggaan lokal yang kini menembus pasar di luar Luwu Timur.“Kami memulai dari hal sederhana, mendampingi masyarakat menata usaha, mengolah potensi lokal, hingga mampu berdiri di pasar bebas. Kini, semangat itu kami bawa ke tingkat provinsi. Bagi kami, setiap produk UMKM adalah simbol dari nilai tambah yang tinggal di tanah Sulawesi,”katanya.