Hilirisasi dan Tambang Berkelanjutan Eksplorasi Nikel Sejatinya Bukan Ancaman Lingkungan

Seperti kota Mandiri, mungkin hal inilah yang menggambarkan lokasi pertambangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Sorowako, Sulawesi Selatan. Selain ada lokasi pabrik, perumahan karyawaan, rumah sakit juga ada fasilitas olahraga dan lainnya guna menunjang para karyawan hingga bandara lapangan terbang juga tersedia. Kondisi ini jauh terkesan dari daerah yang terisolir dan justru sebaliknya hidup dengan kegiatan tambang yang berdampingan dengan alam.

Dengan total luas area tambang mencapai 70.566 hektar (ha), Sorowako menjadi lokasi pertambangan yang menawan, bersih, ramah lingkungan dan jauh dari kata kotor. Sebenarnya ada dua lokasi tambang lainnya milik Vale Indonesia yang sudah mendapatkan izin pengelolaan yakni di blok Pomalaa dengan luas 24.752 ha dan Bahadopi 22.699 ha.

Hanya saja, lokasi tambang di Sorowako menjadi yang pertama dan sudah maju dan berhasil melakukan reklamasi lahan hasil tambang menjadi hutan yang alami dan memberikan dampak manfaat bagi masyarakat sekitar. Mendapatkan kesempatan langsung berkunjung ke lokasi tambang Nikel terbesar ke-10 di dunia versi GlobalData yang dilansir dari mining-technology.com, para sepuluh jurnalis dari berbagai media nasional dan daerah dibuat takjub dengan kondisi pertambangan nikel yang jauh dari kata kotor ataupun kesan merusak lingkungan dari kegiatan eksplorasi.

Malah sebaliknya, lokasi tambang Vale ini seperti wisata alam, seperti hutan alam hasil reklamasi lahan bekas tambang dan danau Matano hasil olahan air bekas tambang,”Di luar gambaran saya, lokasi tambang Vale di Sorowako justru seperti ekowisata yang banyak tumbuhan dan tetap terjaga, meski deru mesin alat berat kegiatan eksplorasi terus berjalan pagi, siang dan malam,”ujar salah satu jurnalis.

Rizal Baslang, Manager Mine PT Vale Indonesia mengatakan, blok Sorowako merupakan kontributor utama produksi nikel Vale di Indonesia. Meskipun Vale sudah lama beroperasi di Sorowako tapi potensinya diperkirakan masih cukup besar dan bisa bertahan lebih dari 20 tahun lagi.“Bisa sampai 2045 dengan fasilitas eksisting,” kata Rizal di area tambang Vale.

Dalam proses penambangannya, Vale menggunakan teknik pertambangan terbuka (surface mining) dengan metode open cast dengan rata-rata produksi nikel dalam matte oleh PT Vale setiap tahun mencapai 78 ribu metrik ton atau sekitar 5% pasokan nikel dunia. Vale sendiri memang dinilai jadi salah satu role model pengelolaan tambang di tanah air.  Manajemen Vale memastikan pengelolaan tambang nikel di Sorowako dilakukan secara berkelanjutan. Paling terlihat adalah pengelolaan lahan bekas tambang.

Hal senada juga disampaikan Charles Andianto, manager reklamasi dan rehabilitasi PT Vale Indonesia, rekalamasi pasca tambang yang dilakukan perseroan selalu melibatkan masyarakat sekitar agar manfaat dan dampaknya dapat dirasakan,”Kita selalu membawa mindset yang sama bahwa pengelolaan tambang harus berkelanjutan dengan menjaga alam dan juga sebagai upaya mitigasi,”ujarnya.

”Kita selalu membawa mindset yang sama bahwa pengelolaan tambang harus berkelanjutan dengan menjaga alam dan juga sebagai upaya mitigasi,

Saat ini jumlah tanaman yang ditanam di area reklamasi tambang nikel Vale di Sorowako sudah mencapai lebih dari 5,1 juta tanaman, yang terditri dari tanaman pionir dan tanaman lokal serta endemik. Tanaman pionir yang ditanam di antaranya adalah johar, kayu angin, eucalyptus, sengon buto, suren, beringin, dan lainnya.”Kami juga menanam pohon lokal, dengan persentase antara pionir dan lokal endemik adalah 40:60%. Komposisi tersebut sesuai dengan kebijakan atau aturan dari pemerintah,”jelasnya.

Vale Indonesia, lanjutnya, bahkan melakukan penanaman pohon dengan tingkat kerapatan jauh di atas ketentuan pemerintah.”Kalau pemerintah menerapkan per hektarenya minimum 625 pohon, Vale bisa menjamin 714 ha tanamannya. Itu standar penanaman awal, belum masuk penanaman sisipan dan sebagainya. Kalau kumulatif, bisa mencapai 1.000 pohon per ha,” ungkap dia.

Tak berhenti hanya di penanaman, ditambahkan Charles, perusahaan melakukan pemeliharaan rutin setiap tiga bulan. Kegiatan ini meliputi pemupukan ulang, penyulaman pohon mati, dan pembersihan gulma. Pemeliharaan berlangsung hingga tanaman dinilai mampu tumbuh mandiri, umumnya dalam waktu dua hingga tiga tahun. Memasuki tahun ketiga, PT Vale juga melakukan pengayaan dengan menanam pohon multiguna seperti pohon kayu keras dan tanaman bernilai ekonomi lainnya.

Smart Minning

Selain menjanjikan jalankan bisnis tambang berkelanjutan, perseroan juga menjalankan smart mining. Dimana dalam kegiatan operasionalnya sudah terdigitalisasi dan otomatisasi. Langkah ini dinilai lebih efektif, efisien dan bahkan mampu meningkatkan produktivitas serta menekan angka kecelakaan kerja.

Smart mining menjadi sebuah program yang mulai digalakkan pada beberapa tahun terakhir dan memang mampu meningkatkan leverage bagi operasional bisnis dari sisi produktivitas, efisiensi, dan mitigasi risiko. Dengan smart mining, Vale Indonesia perkuat hilirasi nikel dan memacu produksi. Asal tahu saja, smart mining merupakan konsep pemanfaatan teknologi berbasis data untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertambangan. Teknologi ini mencakup pemanfaatan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), cloud computing, dan big data analytics.

Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto mengungkapkan, perseroan telah mengimplementasikan teknologi tidak hanya untuk operasional tetapi juga untuk aspek keselamatan sebagai cara meminimalisasi tingkat kecelakaan. Salah satu metode untuk menganalisis risiko yang telah dilakukan, yakni dengan menggunakan metode bow tie.“Kami coba petakan faktor-faktor kecelakaan kerja, yakni karena mengantuk, overspeed yaitu melebihi kecepatan dari yang ditetapkan, dan faktor karena interaksi dengan alat berat,”ujarnya.

Tak hanya itu, implementasi standar keselamatan baru untuk alat transportasi karyawan juga dilakukan. Termasuk menyediakan Closed Circuit Television (CCTV) atau  kamera pengawas, dust camera, kamera sensor mundur, kamera sensor depan, dan fatigue detection. “Fatigue detection sangat penting karena kita beroperasi tiga shift selama 24 jam tidak berhenti. Ada poin-poin di mana manajemen tidak hadir. Bahkan ada sub-manager yang tidak ada di sana. Kita banyak pakai teknologi, bagaimana fatigue management bisa meng-alert driver yang mulai mengantuk matanya. Dan penerapan ini dibarengi dengan satu kultur yang kita terapkan di perusahaan,”katanya.

Disampaikannya, PT Vale Indonesia juga memiliki operational center atau control room yang terpusat dan terintegrasi dalam hal standar keselamatan kerja di area pembangkit listrik. Lalu ada pemantauan gempa secara real time, penerapan robotic online monitoring berbasis web untuk pemantauan deformasi permukaan dam Karebbe. “Ke depan, kami dari manajemen juga melihat ini sesuatu yang harus kita pantau secara rutin,”tuturnya.

Selain itu, perseroan juga menerapakn teknologi Geospasial dengan dukungan dari Esri Indonesia yang memungkinkan Vale Indonesia memetakan, mengintegrasikan, dan menganalisis data spasial yang kompleks terkait operasi tambang, pengelolaan lingkungan, dan perencanaan aset. Pendekatan berbasis data ini mendukung komitmen Vale dalam menjaga keselamatan, meminimalkan dampak lingkungan, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya serta aset.“Di Vale Indonesia, keberlanjutan dan inovasi adalah pilar utama dalam operasi kami,” terang Rahadian K. Wijaya, Manager Survey & Geospatial Technology Vale Indonesia.

Dirinya menambahkan, dengan mengadopsi teknologi geospasial, perseroan dapat menyelaraskan proses operasional, meningkatkan pengambilan keputusan, dan memperkuat kemampuan kami untuk mencapai tujuan bisnis sekaligus memenuhi target keberlanjutan.

Geospatial Information System (GIS) akan berfokus pada optimalisasi proses operasional Vale Indonesia, termasuk perencanaan tambang, pemodelan sumber daya, pemantauan operasional, hingga peningkatan efisiensi. Selain itu, GIS akan memainkan peran penting dalam pemantauan dan analisis real-time yang mendukung manajemen risiko dengan mengidentifikasi dan mengurangi potensi bahaya serta masalah keselamatan dalam operasi pertambangan.

Sementara Esri Indonesia sebagai mitra Vake Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung berbagai industri, termasuk pertambangan agar pengguna memanfaatkan solusi geospasial dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan operasional. “Dalam industri pertambangan yang dinamis, teknologi geospasial selalu menjadi elemen penting untuk mendorong efisiensi dan beradaptasi dengan perubahan yang cepat,” kata Leslie Wong, Presiden Direktur & Managing Director Esri Indonesia & Esri South Asia.

Berkat pemanfaatkan teknologi tersebut, INCO berhasil mencatat peningkatan produksi nikel matte dan kontribusi awal dari operasi tambang Bahodopi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Produksi nikel matte pada kuartal III/2025 mencapai 19.391 metrik ton, naik 4% dibandingkan kuartal sebelumnya. Untuk sembilan bulan pertama 2025, total produksi tercatat 54.975 metrik ton, meningkat 4% secara tahunan.

Vale Indonesia yang merupakan bagian dari MIND ID juga mencatat penjualan perdana bijih nikel saprolit dari Bahodopi dan Pomalaa lebih awal dari jadwal, yakni pada Juli 2025. Total penjualan saprolit hingga akhir September mencapai 896.263 metrik ton basah. Sementara laba bersih tercatat US$52,44 juta atau setara Rp872,24 miliar dengan asumi kurs Jisdor Rp16.631 per dolar Amerika Serikat (AS). Capaian tersebut meningkat 2,62% dibandingkan periode sama tahun lalu yakni US$51,10 juta.

Kemudian pendapatan INCO tercatat sebesar US$705,38 juta. Jumlah itu mengalami penurunan sebesar 0,45% dibandingkan periode sama tahun lalu yakni US$708,56 juta. Kinerja tersebut berasal dari penjualan produk nikel matte yang berkontribusi US$661,89 juta dan penjualan bijih nikel mencapai US$43,49 juta.