Menyulap Lahan Kritis Jadi Produktif – Berkah Berkebun Nanas Bawa Kemandirian Ekonomi

“Dari berkebun nanas saya bisa menghidupkan kebutuhan dapur di rumah dan tambahan jajan buat anak,”cerita wanita paruh baya petani nanas di desa Tabarano, Kecamatan Wasupondo.

Tidak jauh berbeda dengan petani pada umumnya, dirinya mengawali aktivitas berkebun di pagi hari hingga sore. Meskipun bukan milik kebun pribadi dan hanya memanfaatkan lahan milik BUMDES seluas lima hektar yang dikelolanya bersama 12 orang lainnya, kehidupannya sangat bergantung dari berkebun nanas. Pasalnya, dari berkebun tersebut berhasil mengubah kehidupannya dari sebelumnya hanya pengangguran, kini bisa berdaya dan menghasilkan uang dari hasil penjualan nanas hingga turunannya.”Berkat jadi petani nanas, ada tambahan penghasilan dibandingkan sebelumnya hanya menganggur,”ujarnya.

Ya, dibalik kegiatan berkebun nanas dan hasilnya yang mampu menopang penghasilan para suami, ada semangat pemberdayaan masyarakat rentan, lahirnya ibu rumah tangga yang kini berpenghasilan dan juga lahir kesadaran gotong royong dan persatuan. Hal ini sangat beralasan karena lahan yang kini jadi kebun nanas dahulu adalah lahan gersang langganan kebakaran mampu diubah menjadi lahan yang memiliki nilai ekonomi dan mampu memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. Bahkan kedepan lahan yang dulunya tandus bakal disulap menjadi agrowisata sebagai wisata edukasi nanas di desa Tabarano.

Ketua Kelompok Budidaya Nanas Ponda’ta, Yohanis Gusti menunjukan berat satu nanas bisa mencapai 5-7 kilogram

Perjalanan petani desa Tabarano Wasuponda tidak selalu mulus. Banyak tantangan dihadapi sebelum akhirnya kebun itu bisa menghasilkan buah nanas yang manis. Kala itu banyak keraguan dari berbagai pihak, bagaimana mungkin lahan kritis bisa hidup nanas. Namun akhirnya keraguan itu perlahan memudar, berubah menjadi gotong royong dan perputaran perekonomian desa yang berkelanjutan.

Maka tak heran bagi warga desa Tabarano Wasuponda, kebun nanas ini bukan sekadar ladang penghidupan, tapi simbol kebangkitan tentang bagaimana dari tanah tandus, mereka benar-benar bangkit bersama. Tak hanya sektor tani yang bergerak, produk turunan nanas pun menjadi nilai ekonomi bagi para kelompok pengelola yang kebanyakan ibu rumah tangga mulai memproduksi selai, dodol, asinan, sirup, hingga keripik nanas dengan merek Pondata.“Dulu kami hanya di rumah, sekarang punya kegiatan dan penghasilan tambahan. Ilmu baru juga kami dapat, seperti membuat dodol dan sirup nanas,” kata salah satu anggota kelompok sambil tersenyum.

Sementara Kepala Dusun sekaligus Ketua Kelompok Budidaya Nanas Ponda’ta, Yohanis Gusti menyebut, sepanjang lahan kebun nanas itu beroperasi, mereka sudah menghasilkan dua kali periode panen. Panen pertama sebanyak 300 kilogram, dan panen kedua sebanyak 700 kilogram. Dari hasil itu, Yohanis Gusti tidak menampik banyaknya permintaan dari luar wilayah.

Namun diakuinya, pemasaran masih di sekitar Wasuponda, membuat olahan nanas, hingga untuk memenuhi permintaan dari PT Vale.“Sebenarnya banyak permintaan dari luar, dan juga kita sebar ke ritel moderen. Namun ini masih cukup untuk memenuhi bahan baku pembuatan produk turunan dan dipasarkan sekitar wilayah Wasuponda,” kata Yohanis Gusti.

Disampaikan Yohanis, rata-rata bobot nanas mencapai 4 kilogram per buah, dan ada yang bisa menembus 7 kilogram. Semua dikelola tanpa bahan kimia. “Kami 100% organik. Pupuknya dari kompos, pestisidanya dari bahan alami sekitar kebun. Kami juga bikin rumah kompos dan rumah magot untuk mendukung keberlanjutan,”ujar Yohanis.

Kontribusi Vale Indonesia

Dibalik kesuksesan petani nanas desa Tabarano, ada peran kontribusi PT Vale Indonesia Tbk dalam mendukung pemberdayaan petani. Sehingga berkat kerjasama dengan Vale membuat semuanya menjadi lebih mudah. Sebab, tak hanya uang pengelolaan yang diberikan tetapi juga pendampingan para tenaga ahli untuk memastikan program agrowisata desa Tabarano tertata, berdaya, dan terstruktur dari hulu sampai hilir.

Sebelum memutuskan menanam nanas di lahan itu, orang-orang Vale melakukan dasar kajian ilmiah tentang lahan, sebelum menyimpulkan bahwa tanah di lokasi itu memiliki pH atau derajat keasaman hanya 4. Mereka menemukan permasalahan paling vital sebelum masuk pada tahap berikutnya menanam komoditi nanas.

Kemudian, ada pendampingan dan pengadaan bibit. Nanas di lahan itu ada tiga varietas, nanas lokal nanas madu, nanas bogor dan semuanya diberikan oleh PT Vale. Demikian dengan tahap budidaya. Sejak awal, kebun nanas Ponda’ta dirawat secara organik, tidak diberikan pestisida atau bahan kimia lain untuk menghasilkan nanas yang sehat dan segar.“PT Vale sangat membantu kami sehingga jadilah seperti ini.  Ada pendampingan, ada pemetaan. Mulai dari pengadaan bibit, pendampingan budidaya-pengolahan, pembangunan fasilitas air, dan tahun ini rencananya pembuatan rumah produk, pengolahan kompos, budidaya maggot, dan nursery,” kata Yohanis.

Senior Coordinator PTPM Livelihood PT Vale, Sainab Husain Paragay mengatakan, sejak awal program itu digulirkan memang memerlukan kajian mendalam. Alasannya, pengelolaan lahan kritis tidak mudah. Pada periode 2019-2022, lanjutnya, lokasi itu sering menjadi langganan kebakaran lahan yang notabenenya berdekatan dengan pemukiman warga. Setidaknya ada tiga sampai empat kali lahan di lokasi itu mengalami kebakaran ketika musim kemarau.

Sainab yang juga warga asli Desa Tabarano mengatakan, kebun nanas Ponda’ta hadir juga punya dasar sejarah wilayah. Wasuponda dalam bahasa padoe berarti “nanas yang tumbuh di atas batu”. Secara karifan lokal, wilayah itu memang memiliki banyak tanaman nanas.“‎Dari sana ide untuk menanam nanas, karena tanaman ini secara ilmiah dapat tumbuh di lahan kritis – tanaman yang resilien, ketahanannya sangat tinggi, tidak butuh air yang banyak untuk bisa hidup,” katanya.

Dari dasar kajian PT Vale dan sejarah wilayah itu, mereka menemukan kesimpulan untuk mengelola tanaman nanas. Dan ternyata berhasil.“‎Kemudian, dari ribuan nanas yang kita tanam – dipikirkan juga untuk membuat produk turunannya, karena nanas ketika satu sampai dua hari tidak dikonsumsi akan busuk. Kita jadikan nanas tadi menjadi selai, dodol, dan produk lainnya,”ujar Sainab.

Disampaikannya, keterlibatan warga menjadi kunci keberhasilan. Mereka tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan juga pelaku utama dalam pengelolaan kebun nanas. Mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga panen dilakukan secara gotong royong.

Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan dari PT Vale, warga memperoleh pengetahuan tambahan mengenai cara bercocok tanam yang lebih efektif. Hal ini membuat kebun nanas di Tabarano berkembang lebih cepat dan hasil panennya lebih optimal.

Langkah PT Vale dan warga Tabarano ini berpotensi menjadi inspirasi bagi daerah lain yang memiliki lahan kritis. Dengan perencanaan matang, keterlibatan masyarakat, serta dukungan teknologi dan pelatihan, lahan tidak produktif bisa disulap menjadi aset ekonomi baru. Lebih dari itu, program ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak harus mengorbankan aspek kesejahteraan. Justru, keduanya bisa berjalan beriringan apabila ada kolaborasi yang solid.